Jumat, 24 Mei 2013

Aliran Hinayana dan Mahayana



ALIRAN HINAYANA DAN MAHAYANA

Responding Paper
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat pada
Mata Kuliah Agama Buddha

Dosen pembimbing:
Dra. Hj. Siti Nadroh, M. Ag

Oleh:
Ifa Nur Rofiqoh
(1111032100049)

UIN LOGO

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013


A.           PENDAHULUAN
Sebagaimana halnya dengan agama-agama lain timbul madzhab dikalangan  para pengikutnya, maka demikian  pula Budhisme ini setelah Budha wafat terjadi juga perpecahan menjadi beberapa aliran/sekte dikalangan pengikutnya.
Yang menjadi salah satu alasan utamanya adalah karena adanya perbedaan pandangan tentang Dhamma yang diajarkan Sang Budha.


B.            ALIRAN HINAYANA DAN MAHAYANA
a.    Sejarah Awal Terjadinya Perpecahan Dalam Ajaran Agama Budha
Perpecahan mula-mula terjadi dikalangan anggota Sangha tetapi kemudian meluas sampai pada orang awam. Karena Sangha berusaha menarik pengikutnya masing-masing guna mempertahankan kedudukan ajarannya.[1]
Beberapa minggu setelah Sang Budha (483 SM) seorang bikkhu tua yang tak disiplin bernama Subhadha berkata “janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari pertapa agung yang tidak akan lagi memberi tahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita; tetapi sekarang kita dapat berbuat apapun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi”, dengan kata lain para Bikkhu dapat melakukan apa yang diinginkan karena Sang Buddha sudah tiada. Bikkhu Kassapa, setelah mendengar kata-kata itu memimpin pasamuan agung (konsili) di Rajagaha. [2]
Dalam pasamuan agung yang pertama inilah mereka mengikuti ajaran Sang Budha seperti tersebut dalam kitab Vinaya-Pitaka, sebagaimana sabda Sang Budha yang terakhir: “Jadikanlah Dhamma dan Vinaya sebagai pelita dan pelindung bagi dirimu”.[3]
Pada mulanya Tipitaka ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok bikkhu yang berniat mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para bikkhu yang mempertahankan Dhamma Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Budha menyelenggarakan pasamuan agung kedua[4] di Vesali. Kelompok bikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma-vinaya ini menamakan diri Sthaviravada, yang kelak disebut Theravada; sedangkan kelompok bikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi madzhab Mahayana. Jadi, seabad setelah Sang Budha Gotama wafat, agama Budha terbagilah menjadi dua aliran besar Theravada dan Mahayana.[5]

b.    Aliran Hinayana/Theravada
Golongan ini dipimpin oleh Sthavira yang dicap golongan kolot (orthodox), mereka berasal dari daerah selatan (Caylon). Yang kemudian aliran faham golongan Stavira tersebut dinamakan madzhab Hinayana (kendaraan kecil) atau disebut theravada. Mereka adalah golongan yang ingin mempertahankan ajaran asli Budha, terlepas dari kebudayaan luar.[6]
Dalam pokok ajarannya Hinayana mewujudkan suatu perkembangan yang logis dari dasar-dasar yang terdapat didalam kitab-kitab kanonik. Secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut:
-          Segala sesuatu bersifat fana serta hanya berada untuk sesaat saja.
-          Dharma-dharma itu adalah kenyataan yang kecil dan pendek, yang berkelompok sebagai sebab dan akibat.
-          Tujuan hidup adalah mencapai Nirwana.
-          Cita-cita yang tertinggi adalah menjadi arahat.[7]
Pemikiran yang berkembang langsung berdasarkan ajaran Sang Budha Gautama yang disebut Hinayana/Theravada menitik beratkan kepada jalan mulia beruas delapan untuk mencapai Nirvana. Hinayana sagat terikat pada ajaran Sang Budha yang ditulis dalam Vinaya, Sutta dan Abidhamma (Tipitaka Pali). Oleh karena itu ajaran madzhab ini juga dinamakan sebagai “the doctrine of the eyes”.[8]

c.    Aliran Mahayana
Golongan ini dipimpin oleh Mahasanghika, yang ingin mengembangkan ajaran Budha secara terbuka terhadap kebudayaan masyarakat. Jadi aliran kedua ini ingin menyesuaikan diri dengan kemajuan peradaban masyarakat dimana saja, sehingga kemungkinan pengaruh kebudayaan asing dapat masuk kedalamnya. Dalam perkembangan selanjutnya madzhab ini disebut sebagai aliran Mahayana (kendaraan besar) yang berkembang di India Utara kemudian eluas ke negeri-negeri lain sampai ke Jepang dan Eropa.[9]
Cita-cita tertinggi di dalam Mahayana adalah untuk menjadi Bodhisattva.[10] Cita-cita ini berlainan sekali dengan cita-cita Hinayana, yaitu untuk menjadi arahat. Sebab seorang arahat hanya memikirkan kelepasan diri sendiri. Berkaitan dengan cita-cita tentang Bodhisattva ini, di dalam aliran Mahayana ada ajaran tentang pariwarta, yaitu bahwa kebajikan dapat dipergunakan untuk kepentinagn orang lain. Orag yang mendapatkan pahala karena kebajikannya, dapat mempergunakan pahala itu untuk kepentingan orang lain. Ajaran ini sudah tentu berlainan sekali dengan ajaran Agama Buddha kuno, yang mengajarka bahwa hidup seseorang terpisah dari hidup orang lain.[11]
Pandangan Mahayana berbeda sistem dengan Hinayana dalam cara mencapai tujuan. Mahayana mementingkan pelaksanaan paramita untuk mencapai membebaskan penderitaan umat manusia. Pemikiran yang mengembangkan intuisi berkembang dalam Mahayana. Oleh karena itu sebagian sarjana menyebutkan sebagai “the doctrine of the heart”.[12]

C.           RITUAL DAN PRAKTEK BUDHA MAHAYANA DAN HINAYANA
a.    Pokok-Pokok Ajaran Hinayana dan Mahayana
Pokok-pokok ajaran dan faham antara Hinayana dan Mahayana dapat disebutkan sebagai berikut:[13]
Hinayana
Mahayana
Manusia dipandang sebagai seorang individual dalam usahanya
Orang dalam usahanya mencapai nirvana tidak egoistis tetapi dapat saling membantu
Usaha kebebasan dalam alam ini tergantung pada diri sendiri
Orang tidak sendirian dalam mencapai kelepasan, tetapi dapat ditolong orang lain yang telah menjadi bodhisatwa
Sebagai kunci keutamaan manusia ialah kebijaksanaan
Kunci keutamaan ialah kasih sayang yang disebut “karuna”
Agama sepenuhnya adalah tugas kewajiban yang harus dijalankan terutama oleh kaum pendeta
Agama punya hubungan dengan kehidupan di dunia bagi orang awam di luar golongan pendeta
Tipe ideal adalah arahat
Tipe ideal adalah bodisatwa
Budha dipandang sebagai orang suci
Budha dipandang sebagai juru selamat
Membatasi pengucapan do’a pada meditasi
Melakukan do’a-do’a permohonan kepada dewa
Menolak hal-hal yang bersifat metafisis
Melaksanakan dengan teliti hal-hal yang berhubungan dengan metafisika
Tidak melakukan ritual/upacara agama
Mengadakan upacara keagamaan
Bersifat konservatif (kolot), karena ingin bertahan pada yang lama
Ajarannya bersifat liberal
Tidak mengenal dewa-dewa lokapala (dewa angin) ataupun dewa-dewa tri murti
Mengenal dewa-dewa lokapala (dewa angin) serta dewa-dewa trimurti Budhisme
Tidak mengenal ber yoga atau tantra (mantra-mantra)
Memperhatikan pengalaman yoga dan mantra-mantra (tantranisme)

b.    Konsepsi Ketuhanan
Esensi ajaran Budhisme hinayana sesuai dengan keaslian ajaran Budha. Tidak mengenal adanya dewa-dewa penyelamat manusia. Dengan demikian maka dalam Hinayana tidak terdapat upacara-upacara keagamaan dan pemujaan terhadap yang maha suci.
Berbeda dengan aliran Hinayana, Mahayana mengenal banyak dewa-dewa, sehingga boleh dikatakan Mahayana adalah berfaham politeisme seperti dalam agma Hindu. Hal ini karena adanya kenyataan sebagai berikut:
-          Mengenal faham trimurti Budisme yaitu kepercayaan terhadap adanya tokoh-tokoh kedewaan yang terdiri dari Dyani Budha, Manusia Budha dan Dyani Bodisatwa yang kesemuannya bersumber pada Adi Budha (yang bersemayam di Sorga loka)
-          Mempercayai adanya dewa-dewa lokapala yaitu dewa-dewa yang menjaga dunia diarah penjuru angin.
-          Mempercayai adanya sakti-sakti  (istri dewa)
-          Mengadakan upacara keagamaan dalam bentuk pemujaan kepada Budha serta memberikan kurban kepadanya.[14]

c.    Konsep Tentang Pencipta Alam
Teori Budhisme tentang penciptaan alam berhubungan erat dengan kecenderungan manusia mrncari perlindungan. Pencipta alam menurut Mahayana adalah Adi Budha, yang mengirim wakil-wakilnya turun kedunia untuk memelihara dan memberi perlindungan kepada manusia. Alam ini dicipta dalam tiga zaman yang masing-masing dijaga oleh tokoh kedewaan sebagai berikut:[15]
a.         Pada zaman lampau dunia dijaga oleh dewa-dewa:
-       Vairochana (D), Samantabadhra (B), Karkucchanda (M)[16]
-       Aksobya (D), Vajrapani (B), Kanakamuni (M)
-       Amogasidha (D), Ratnapani (B), Kasyapa (M)
b.        Pada zaman sekarang dunia dijaga oleh dewa-dewa:
-       Amitaba (D), Avolakiteswara (B), Sakyamuni (M)
c.         Pada zaman yang akan datang dunia dikuasai oleh dewa-dewa:
-       Ratnasambhava (D),  Wisvapani (B), Maitreya (M)

D.           KESIMPULAN
Dua aliran besar atau disebut dengan filosofi agama Budha adalah aliran yang pertama kali muncul dalam sejarah Budha. Kedua aliran ini mempunya pandangan yang berbeda dalam menyebarkan Dhamma. Dapat dilihat dalam kolom berikut:

Hinayana/Theravada
Mahayana
Wilayah perkembangan
Thailand
Korea-Jepang
Kitab suci yang diakui
Tipitaka Pali
Tripitaka-sutra
Tujuan Budha
Arahat: disebut jalan sesepuh/jalan kecil hanya dapat menyelamatkan dirinya sendiri dn tidak ada hubungannya dengan orang lain (Nabi)
Bodhisatwa: disebut jalan besar, selain dapat menyelamatkan diri sendiri juga dapat membantu orang lain (Rasul)

E.            REFERENSI
o  Hadiwijono, Harun. Agama Hindu dan Budha. Jakarta: Gunung Mulia, cet. XVII, 2010
o  H. M. Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar. Jakarta: PT. Golden Terayon Press, 1995
o  _______. Kapita Selekta Agama Budha. Jakarta: CV. Dewi Kayana Abadi, 2003


[1] H. M. Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, (Jakarta: PT. Golden Terayon Press, 1995), h. 107
[2] _______. Kapita Selekta Agama Budha, (Jakarta: CV. Dewi Kayana Abadi, 2003), h. 26
[3] Ibid.
[4] Pada pasamuan agung yang kedua ini kitab suci Tipitaka diucapkan ulang oleh 700 orang arahat.
[5] _______. Kapita Selekta Agama Budha, h. 27
[6] H. M. Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, h. 107
[7] Harun Hadiwijono. Agama Hindu dan Budha, (Jakarta: Gunung Mulia, cet. XVII, 2010), h. 91
[8] _______. Kapita Selekta Agama Budha, h. 49
[9] H. M. Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, h. 107
[10] Didalam Mahayana Bodhisatwa adalah orang yang sudah melepaskan dirinya dan dapat menemukan sarana untuk menjadikan benih pencerahan tumbuh dan menjadi masak pada diri orang lain. Namun jauh sebelum Mahayana timbul istilah Bodhisatwa sudah dikenal juga. Lihat Harun Hadiwijono. Agama Hindu dan Budha, h. 92
[11] Harun Hadiwijono. Agama Hindu dan Budha, h. 92
[12] _______. Kapita Selekta Agama Budha, h. 49
[13] H. M. Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, h. 108-111
[14] Hal ini dapat disaksikan dalam upacara Vaisak yang setiap 6 bulan sekali diadakan di Candi Borobudur
[15] H. M. Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, h. 113-114
[16] Keterangan:
(D)  = Dyanibudha,  (B)  = Bodhisatwa,  (M)  = Manusia Budha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Dalam rangka belajar, rasanya tak sempurna blog yang saya terbitkan tanpa adanya sekata dua kata yang dilontarkan. Kiranya pembaca dapat menambahkan kritik, saran maupun komentar untuk perbaikan selanjutnya. Terima Kasih telah di kunjungi... :-)